Kes pukau popular ketika Ramadan

KES PUKAU POPULAR KETIKA RAMADAN

Jakarta: Polis Metropolitan Jakarta Raya mengingatkan masyarakat agar lebih berwaspada terhadap peningkatan kadar jenayah seperti rompakan menggunakan pukau pada bulan Ramadan.

Seperti tahun sebelum ini, jenayah berlaku pada Ramadan terjadi dengan pelbagai modus operandi.

Justeru polis meminta orang ramai tidak menjadikan diri mereka sasaran dengan mengelak daripada memakai barang kemas atau membawa barangan berharga ketika berada tempat awam.

Jurucakap polis berkata peningkatan kadar itu didorong keperluan harian yang mendesak pada bulan puasa.

Melalui data yang diperoleh polis, katanya, pukau antara jenayah paling tinggi berlaku ketika Ramadan. “Kes pukau biasanya terjadi kepada pengguna pengangkutan awam,” katanya.

Jenayah hipnotis kian meningkat di Malaysia

Pencerahan kepada

JENAYAH HIPNOTIS KIAN MENINGKAT DI MALAYSIA

Peningkatan kejadian jenayah dengan pelbagai modus operandi pastinya membimbangkan pelbagai pihak. Baru-baru ini, kita dikejutkan dengan cerita kononnya ada penjenayah dari negara jiran menggunakan hipnotis sebagai cara memerangkap mangsa. Malah, difahamkan, jenayah menggunakan hipnotis ini sudah berlaku di Malaysia dan Thailand sejak beberapa tahun kebelakangan ini.

Jenayah menggunakan kaedah hipnotis banyak berlaku di sebuah negara jiran kerana ilmu berkenaan mudah, murah dan cepat dipelajari, sehinggakan banyak kes mangsa dihipnotis hanya melalui telefon.

Di Malaysia, kaedah hipnotis lebih popular dengan nama hipnosis dan kebanyakan orang menganggap hipnosis dan pukau adalah perkara yang sama walaupun sebenarnya ia berbeza.

Walaupun jenayah hipnosis ini semakin meningkat di Malaysia, ia tidak dilaporkan. Penjenayah menjadikan lokasi tumpuan awam seperti perhentian bas, stesen Transit Aliran Ringan (LRT) dan mesin pengeluaran wang automatik (ATM) untuk mencari mangsa.

Mangsa dilihat secara sukarela mengeluarkan dan kemudian menyerahkan sendiri wang dan barang berharga kepada penjenayah hipnosis. Lebih mengecewakan, tidak ramai yang mahu melaporkannya kepada polis disebabkan ‘kerelaan’ sendiri.

Sudah tiba masa masyarakat didedahkan mengenai bahaya modus operandi baru penjenayah kerana tidak seperti kes samun, ragut dan rompak, mangsa langsung tidak menyedari dirinya dirompak sehinggalah selepas satu tempoh atau disedarkan oleh orang lain.

Pakar Matematik Gunaan, Prof Madya Abdul Hamid Yeop Zainuddin, dalam seminar berkaitan hipnotis bertajuk ‘Melihat Tanpa Dilihat’ di Universiti Teknologi Malaysia, Jalan Semarak, baru-baru ini, berkata hipnotis, hipnosis dan hipnoterapi berasal daripada perkataan hypno yang bermakna tidur dan terapi bermakna rawat.

“Hipnoterapi adalah rawatan yang memerlukan pesakit ditidurkan. Hipnotis atau hipnosis adalah proses ‘menidurkan’ subjek, sama ada manusia atau binatang. Tidur dalam kaedah ini bukan seperti tidur biasa difahami awam, tetapi tidur dalam keadaan yang masih sedar.

“Menerusi kaedah ini, pesakit masih boleh berkomunikasi dengan orang di sekelilingnya walaupun sedang tidur. Pesakit boleh mendengar, melihat atau merasa. Dalam bahasa mudah, seperti sedang bermimpi, tetapi dalam mimpi itu kita sedar, kita tahu kita sedang bermimpi. Ramai yang pernah bermimpi kencing, tetapi apabila tersedar memang betul-betul kencing! Penggunaan hipnosis amat penting dalam bidang perisikan, pemantauan dan pengesahan maklumat,” katanya dalam satu pertemuan dengan BH, baru-baru ini.

Ramai menyangka ilmu hipnosis dipelopori Barat, sedangkan ia adalah ilmu yang dicipta dan dikembangkan orang Islam ketika Tamadun Arab dan selepas itu dibawa dan diterjemahkan ke bahasa Latin.

Kaedah hipnosis

Dalam pengajian Melayu dan Arab, hipnosis dipanggil ‘Kaedah Tidur’ yang dikatakan berasal daripada peristiwa Israk dan Mikraj seperti yang diceritakan dalam surah Al-Israk (17: 1), yang bermaksud: “Maha Suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjid Al-Haram (di Makkah) ke Masjid Al-Aqsa (di Palestin), yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.”

Berikutan peristiwa itu, orang kafir Makkah menghasut orang Islam dengan mengatakan mustahil manusia boleh naik ke langit sehinggalah ramai yang murtad. Dikisahkan, Rasulullah diperintahkan untuk membuktikan manusia boleh naik ke langit, maka dikumpulkan orang (di masjid), kemudian Baginda duduk menyandarkan belakangnya serta meminta semua orang bertanyakan apa yang boleh meyakinkan mereka. Ramailah yang bertanya apa yang ada di sepanjang jalan antara kedua-dua tempat itu dan Baginda pula memberi jawapan yang tepat tanpa pergi secara fizikal. Teruskan membaca

Ranjau dan halal haram dalam hipnotis

Pencerahan kepada

RANJAU DAN HALAL HARAM DALAM HIPNOTIS

Meski secara umum saya berpendapat bahwa hipnotis bukanlah sesuatu yang haram, namun saya tidak menolak jika penggunaan (aplikasi) hipnotis boleh saja melanggar syari’at. Sebagaimana ilmu lainnya di dunia ini, hipnotis juga sangat mungkin melanggar syari’at baik dari cara mempelajari ilmunya, mempraktekkannya hingga menggunakannya untuk aneka keperluan dalam kehidupaan ini.

Sebagai seorang muslim yang pernah belajar ilmu syari’at, saya menemukan banyak sekali ‘ranjau’ (baca: bahaya) dalam dunia hipnotis. Mulai dari saat anda mempelajarinya (berlatih), mempraktekkan (menghipnotis) hingga penggunaannya dalam terapi maupun aktifitas lain yang menggunakan prinsip hipnotis, baik langsung (direct) maupun tidak langsung (indirect). Hal ini tentunya harus diketahui untuk kemudian dihindari oleh penghipnotis yang beragama Islam.

Penghipnotis yang beragama Islam harus mengetahui dan mengkampanyekan (mendakwahkan) kepada masyarakat maupun para penghipnotis lain agar menghindari praktek-praktek sesat atas nama hipnotis.

Berikut aneka ‘ranjau’ yang harus dihindari oleh penghipnotis (terapis) muslim:

A. Saat Belajar

1. Ritual Musyrik dan Bid’ah

Tak sedikit orang yang belajar ilmu hipnotis, terutama hipnotis tradisional yang menggunakan ritual-ritual musyrik. Hal ini bisa berbentuk ritual sihir yang mereka yakini dapat mendatangkan energi yang bisa digunakan untuk mempengaruhi pikiran orang lain.

Hal ini tentu saja diharamkan menurut ajaran agama kita. Memuja bangsa ghaib dan sosok-sosok imajinatif yang diyakini bisa memberikan kekuatan atau mengawal si penghipnotis untuk kemudian membantunya dalam menundukkan (menidurkan?) suyet yang akan mereka hadapi, jelas merupakan perbuatan musyrik.

Boleh jadi pula mereka tidak melakukan pemujaan terhadap mahluk halus tertentu, namun melakukan ritual dengan prosesi yang diyakini sebagai beribadatan yang bisa membuat mereka memperoleh karomah atau maunah, sehingga Allah memberikan kekuatan batin kepada pelakunya. Hal ini jelas merupakan perbuatan bid’ah (ibadah yang tak sesuai tuntunan agama) yang wajib dihindari oleh setiap muslim.

Ritual bid’ah ini tak kalah berbahaya dengan ritual musyrik (sihir), bahkan boleh jadi menjadi lebih berbahaya karena pelaku tidak merasa sedang berbuat dosa. Jika mereka yang melakukan ritual syirik sadar bahwa apa yang diamalkan adalah sebuah dosa karena meminta kepada selain Allah, namun pelaku ritual bid’ah hampir semuanya menyangka bahwa mereka tengah melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Mereka merasa bahwa mereka tengah berada dalam kebenaran, padahal sebaliknya mereka tengah melakukan amalan sesat.

Orang yang sadar bahwa apa yang dilakukannya sebuah kesesatan secara logika akan lebih mudah untuk kembali kepada kebenaran, sedangkan orang yang terjebak dalam ritual (ibadah) bid’ah cenderung lebih sulit untuk kembali kepada kebenaran karena mereka tak sadar bahwa mereka salah.

2. Masuknya Ajaran Non-Syari’at

Hati-hatilah dalam memilih instruktur hipnotis. Meski hipnotis bukan ilmu agama, namun apa yang diajarkan dalam ilmu hipnotis sedikit banyaknya berhubungan dengan pikiran bawah sadar yang notabene adalah wilayah ghaib (baca: tidak tampak).

Sesuatu yang ‘ghaib’ tidak bisa dibuktikan secara empiris dan memungkinkan banyaknya interpretasi. Sedangkan interpretasi (pemahaman) sendiri sangat dipengaruhi oleh aqidah seseorang. Nah, di wilayah inilah hal-hal yang tak sesuai dengan aqidah dan syari’ah Islam bisa masuk.

Saya tidak menganggap bahwa belajar hipnotis dengan instruktrur non-muslim atau instruktur muslim yang tak mengerti agama adalah sesuatu yang terlarang. Saya hanya ingin mengingatkan ‘ranjau’ yang mungkin saja ada sekiranya si instruktur tak memiliki aqidah yang baik.

Jikapun anda belajar ilmu hipnotis dengan instruktur non muslim atau muslim yang awam soal agama, hendaknya anda waspada. Waspada yang saya maksud adalah dengan tidak menelan mentah-mentah penjelasan yang menyerempet (berhubungan) dengan aqidah. Pegang aqidah anda dengan teguh agar tidak terjerumus dalam kesesatan pemahaman.

Mohon maaf jika saya katakan bahwa saya melihat beberapa praktisi hipnotis yang kemudian menjadi rapuh keimanannya bahkan cenderung skeptis terhadap agama. Saya tidak sedang memvonis atau menilai isi hati seseorang, namun saya hanya menyampaikan tanggapan saya terhadap zahir ‘statement’ mereka yang saya baca dari tulisan maupun kalimat langsung.

Saudaraku, berhat-hatilah dengan persoalan aqidah, karena keimanan merupakan harta paling berharga dalam kehidupan kita sebagai manusia. Jangan sampai hanya karena mempelajari sebuah ilmu, aqidah menjadi rusak atau minimal tergerus olehnya… Na’udzubillahi min dzalik.

B. Saat Praktek Hipnotis

1. Regresi

Regresi adalah kembali ke masa lalu. Ini biasanya dilakukan oleh seorang terapis untuk mengetahui ‘akar masalah’ dari suatu permasalahan psikologis pasien yang ia sendiri tidak tahu (lupa) penyebabnya. Teruskan membaca

Hipnotis diri sendiri ketika solat

Pencerahan kepada

HIPNOTIS DIRI SENDIRI KETIKA SOLAT

Ketika saya menunjukan teknik hipnotis dalam sebuah bengkel. Para peserta begitu yakin baahwa kekuatan latihan pada hakikatnya adalah pemusatan mereka kepada sesuatu keadaan yang membuat diri mereka trance masuk ke dalam tingkatan hipnotis.

Kemudian muncullah sebuah pertanyaan yang diajukan kepada saya dalam bengkel tersebut bahawa bolehkah seseorang solat dalam keadaan trance hipnotis ?. Tentunya ketika seseorang solat dengan terlalu trance pastinya akan mencapai kekhusyukan solat.

Saya berikan jawapasn “tentu saja boleh.

Setelah mendengarkan pertanyaan tersebut, saya mencoba mencari cara, bagaimana mewujudkan kekhusyukan solat dengan menghipnotis diri saya dalam solat. Sebab yang unik kalau dalam solat yang terjadi bukanlah static trance seperti dalam keadaan hipnosis biasa. Dimana biasanya orang hanya relaksasi dan terdiam. Sedangkan kalau di dalam solat yang terjadi adalah dynamic trance. Dimana seseorang seharusnya tetap mengalami trance dari setiap gerakan shalat sehingga kita menghayati setiap ucapan dan gerakan shalat.

Saya mencari sejarah para sahabat dan sejarah Nabi saw. Bagaimana cara dan konsep solat Nabi saw. Kalau merujuk kepada solat Nabi saw, memang Nabi saw sendiri tidak pernah seratus persen trance. Karena baginda pernah memendekkan solatnya ketika mendengar tangisan anak kecil. Beliau juga pernah mendengar adanya ucapan yarhakumullah ketika ada makmum baginda yang lain bersin. Walau saya juga membaca adanya sejarah yang menulis tentang seorang sahabat yang terkena anak panah di kakinya yang kemudian meminta untuk dicabut anak panah tersebut ketika beliau sedang solat. karena begitu khusyuk dan trance-nya orang tersebut solat sehingga mengalami anastesia (kebas) sehingga tak terasa ketika anak panah tersebut dicabut ketika solatnya.

Memahami sejarah yang saya perolehi, kemudian saya berfikir seharusnya soalat adalah sebuah wahana seorang muslim untuk mencapai tingkat trance tertentu, akan tetapi mungkin level trance nya yang tidak selalu harus sampai deep trance.

Saya pribadi pun dengan ilmu yang saya dapatkan kemudian menelaah ilmu yang saya dapatkan dan kemudian mempraktekkan. Setidaknya ini yang kemudian saya dapatkan. Dalam pandangan saya pribadi seseorang akan mengalami tingkat trance/kondisi hipnosa ketika mereka boleh menekankan tiga aspek dari solat itu sendiri yaitu :

Power of Fokus, Power of State dan Power behind Praying Words.

1. Power of Fokus
Mungkin ada sahabat yang mempertanyakan, kok ketika saya shalat malahan memikirkan hal yang lain. Kenapa yah kok ketika shalat saya malah mendapatkan banyak ide. Kenapa saya tidak bisa focus dalam shalat ?

Jika sahabat masih mengalami hal yang demikian. Mulai saat ini mari kita fokuskan shalat kita. Ternyata nabi kita Muhammad SAW telah memberikan cara focus dalam shalat loh. Seperti dalam bebera hadist yang mengatakan bahwa ketika shalat hendaknya seseorang berfokus kepada tempat sujudnya.

“Rasulullah tidak mengalihkan pandangannya dari tempat sujud (dalam shalatnya)” H.R. Baihaqi

Ternyata ketika kita sudah tahu focus dalam shalat berada dalam tempat sujud kita. Mulailah kita ketika sedang shalat untuk mencari satu titik di tempat sujud kita untuk sebagai tempat focus. Kalau menggunakan sajadah , para sahabat bisa mencari titik mana saja di bagian tempat sujud para sahabat.

Silakan konsentrasi dan tetap berfokus mata anda kepada tempat sujud anda, pada setiap gerakan shalat, kecuali ketika memasuki tahiyat akhir, ada beberapa riwayat dimana Rasulullah memindahkan focus matanya kepada jari telunjuk yang diacungkan ke depan.

Mengapa focus itu perlu dalam shalat ?

Tentunya seperti dalam keadaan hypnosis. Diperlukan adanya kefokusan untuk membuat diri kita lebih mudah dalam menerima afirmasi / sugesti. Dengan para sahabat memfokuskan mata kepada tempat sujud, tentunya akan mempermudah informasi dan penghayatan shalat kedalam feel/perasaan anda sehingga mendapatkan kenikmatan shalat yang diinginkan

2. Power of State dan Tumma’ninah

Mungkin telah banyak ulama yang berkali kali mengemukakan pentingnya tuma’ninah. Tapi kenapa juga yah kok masih banyak yang tidak menyadarinya. Terutama ketika pada shalat tarawih. Jangankan untuk membaca bacaan ruku atau sujud. Sedemikian singkatnya hingga tuma’ninah saja tidak sempat.

Mengapa tuma’ninah itu menjadi salah satu kewajiban/rukun shalat. Kalau dalam tinjauan saya pribadi berdasar ilmu kekuatan Fikiran yang telah saya miliki, bahwasanya diperlukan jeda sejenak setiap gerakan shalat (state) sebelum menuju ke gerakan yang selanjutnya. Hal ini diperlukan dalam rangka mencapai keseimbangan dan merasakan dari suatu gerakan shalat /feeling of Praying state.

Tentunya para sahabat telah memahami betapa beda feel yang seseorang alami ketika sedang sujud dibandingkan ketika dia duduk. Nah ,tuma’ninah itu sendiri berguna supaya seseorang bisa merasakan feel dari sujud. Dimana ketika kita sedang sujud dan melakukan tuma’ninah maka feel merendahkan diri dihadapan Allah dalam fikiran kita pun barulah muncul. Nah sekarang bagaimana feel dari shalat mau kita dapatkan kalau tuma’ninah malah menjadi hal yang selalu diabaikan dari shalat kita. Sehingga ketika kita sudah memahami hal ini, semoga kita bisa bersama-sama memperbaiki shalat kita dengan mengedepankan tuma’ninah.

Yang harus diperhatikan lagi, untuk diluruskan bahwasanya bacaan ruku dan sujud itu adalah sunnah sedangkan Tuma’ninah adalah RUKUN. Sehingga kalau kita sedang shalat berjamaah dengan imam yang shalatnya menggunakan gigi 5, mungkin ada baiknya kita mengedepankan dalam rukuk dan sujud untuk melakukan tuma’ninah daripada bacaan shalat. Hal ini pun juga disepakati oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal selaku Ustadz Pengasuh Milist Pengusaha Muslim.

Cara Tuma’ninah bisa dilakukan dengan berhenti sejenak untuk merenungkan dan merasakan esensi gerakan shalat pada saat itu. Mungkin akan lebih efektif jika dikombinasikan dengan melakukan pernafasan perut yang membuat proses Tuma’ninah menjadi semakin santai dan semakin rileks sehingga proses perenungan akan cepat mendapatkan esensi dari gerakan shalat

Semoga dengan kita memperbaiki tuma’ninah kita, semoga feeling/ rasa/ kenikmatan dari setiap gerakan shalat bisa kita rasakan.

3. Power Behind Praying Words

Setelah kita mulai merasakan indahnya atau kenikmatan dari setiap gerakan shalat. Marilah kita mulai untuk merasakan indahnya makna dari setiap bacaan shalat.

– Niat :

Mari kita memulai shalat dengan niat yang baik. Segala sesuatu tentunya berawal dari niat. Ketika shalat kita telah diniatkan untuk Allah, pastinya akan mempermudah kekhusyukan kita beribadah kepadaNya. Inti dari Niat bukanlah dengan kata-kata “ushali fardlu … ” akan tetapi yang utama adalah ketika kita meniatkan kita memahami dan merasakan makna bahwa kita sedang memulai shalat kepada Allah SWT

– Surat Al Fatihah Teruskan membaca